Rekam Jejak, Pengabdian Tanpa Batas, Refleksi 62 Tahun  Dr. H. Rendi Susiswo Ismail, SE, SH, MH

MIMBARUNIBA – Minggu hari ini, 17 Agustus 2025 menjadi waktu paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, yang merayakan Hari Kemerdekaan ke-80 tahun. Namun, bagi Dr. H. Rendi Susiswo Ismail, SE, SH, MH, hari ini juga paling membahagiakan dirinya. Karena pada saat ini, dia memasukki usia ke-62 tahun.

Rendi lahir di Desa Gunung Rejo – Giri Mukti Penajam Paser Utara (PPU), 17 Agustus 1963.  Ia anak pertama dari tiga bersaudara, dari pernikahan  pasangan Ismail Bin Ijab Elyas (ayah) dan Kastiah Sucarmo (ibu).

Ismail bin Ijab Elyas ayahnya, lahir di Loksado. Saat ini, Loksado merupakan bagian dari kawasan Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Loksado kini, secara administratif telah menjadi nama salah satu kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Sementara ibunya, Kastiah Sucarmo adalah seorang perempuan sederhana dari Pemalang Jawa Tengah. Sekira tahun 1957,  ibunda ditemani kedua orang tuanya (kakek dan nenek) bersama saudara, memutuskan hijrah dan merantau keluar Jawa melaui program transmigrasi.

Ayah dan ibunya, dipertemukan di Gunung Rejo – Giri Mukti. Berjodoh dan akhirnya memutuskan menikah. Dari pernikahan ini, lahirlah Rendi Susiswo Ismail, disusul kedua adiknya.

Kala itu, desa kelahiran Rendi, masih termasuk wilayah Kecamatan Balikpapan Seberang. Tidak heran, di kartu tanda pengenal (KTP) dan biodata pribadinya, tertulis tempat kelahiran Rendi di Balikpapan.

Menjalani takdir kehidupan penuh warna, Rendi Susiswo Ismail seperti air mengalir, yang terus bergerak ke muara. Layaknya sebuah perjalanan hidup, air tidak selamanya bergerak lurus.

Namun, seringkali pula berkelok dan berliku. Air akan mengalir, mengikuti semua rute yang dilaluinya. Sejatinya air, dia tidak akan pernah berhenti mengalir, apapun rintangan yang menghalanginya.

Kisah hidup Rendi, identik dengan itu. Sebagai aktivis dan penggiat organisasi, sejak kecil, remaja hingga dewasa, Rendi mengalami perjalanan hidup penuh liku dan perjuangan.

Dari kampung transmigrasi, kisah Rendi mengalir. Hidup sehari – hari dengan berrbagai keterbatasan. Bahkan, untuk sekadar bertahan hidup, dia dan keluarga tidak jarang memakan “kerak nasi”.

Kisah Rendi nan berliku dimulai usai lulus SMP PGRI Petung. Dia memutuskan melanjutkan sekolah tingkat atas ke Balikpapan. Bercita-cita menjadi guru, Rendi malah bersekolah di SMA Muhammadiyah dan di waktu yang hampir bersamaan, juga mendaftar di Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) Balikpapan.

Saat sekolah di Balikpapan ini, cerita Rendi juga penuh keprihatinan. Ia sempat berjualan es kelapa, menjadi pedagang kaki lima (PKL). Sempat pula menjalani takdir sebagai tukang pikul air hingga loper koran.

Perjalanan hidup juga mengalir ketika lulus SMA. Rendi sempat hijrah ke ibukota Jakarta, sekira tahun 1987. Bergabung di organisasi Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) dan kemudian paska peristiwa Tanjung Priok 12 September 1984, pada gilirannya memaksa Rendi kembali pulang ke Balikpapan, sekira tahun tahun 1989.

Sejak kembali di Kota Minyak ini pula, aliran kisah Rendi terus mengalir. Layaknya air, perjalanan hidupnya penuh dengan rangkaian cerita penuh “drama”” yang terus terukir hingga sekarang ini.

Kehidupannya unik, khas aktivis dan sarat idealisme. Namun di sisi lain, semangat itu justru membenturkannya dengan berbagai problem dan masalah. Persoalan hukum, ancaman dan intimidasi hingga aksi premanismen, seringkali pula mewarnai perjalanan hidupnya.

SOSOK MULTI TALENTA

Rendi tak sekadar tokoh dan aktivis organisasi, tapi juga dosen dan dikenal sosok “multi talenta”. Filosofi hidup “Pengabdian Tanpa Batas”, menempatkan Rendi mampu berada di berbagai ruang kehidupan.

Megahnya Gedung Graha Pemuda KNPI di depan Gedung Balikpapan Sport & Convention Center (BSCC – Dome Balikpapan). Lalu kantor sekretariat Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Balikpapan di Jalan APT Pranoto No. 7 dan kantor sekretariat BPC Gapensi Balikpapan di Komplek Pantai Mas Permai Jalan Jenderal Sudirman, hingga bangunan bertingkat menjualang tinggi nan cantik Universitas Balikpapan (Uniba), adalah bagian dari kontribusi besar dan pengabdian tanpa batas yang diberikan seorang Rendi.

Ini, belum termasuk dalam catatan jejak rekamnya yang malang-melintang di banyak organisasi. Setidaknya, ada 24 aktivitas organisasi yang pernah dilalui Rendi, mulai masih muda hingga sekarang ini. 

Ia, tidak hanya tercatat sebagai Ketua Senat Mahasiswa STIE Balikpapan (STIEPAN), tapi juga pernah menjabat  Sekretaris PD IPM Balikpapan – Paser.

Rendi juga pernah menjadi Sekretaris Orsat ICMI Balikpapan, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia-KNPI Balikpapan (2 periode), serta Ketua Majelis Pemuda Indonesia/ MPI Kota Balikpapan (2 periode).

Rendi,  dikenal luas sebagai mantan Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi Ketua HMI Cabang Balikpapan di masa transisi. Bahkan, dia juga  pernah jadi anggota Korps Alumni HMI/KAHMI. saat ini sebagai alumni HMI aktiif di KAHMI Balikpapan sebagai Koordinator Presidium ( Korpres) Majelis Daerah KAHMI Kota Balikpapan.

Selama dua periode, Rendi sempat dipercaya sebagai wakil sekretaris dan sekretaris di BPC GAPENSI Kota Balikpapan. Organisasi dan lembaga yang digelutinya setelah itu, juga beragam. Mulai organisasi dunia usaha, olahraga, politik hingga dunia pendidikan dan keagamaan.

Itu sebabnya, selain pernah dua periode jadi Wakil Ketua Kadin Kota Balikpapan, Rendi sempat satu periode menjadi Ketua Kadin Kota Balikpapan.

Ia  juga tercatat sebagai inisiator lahirnya Asosiasi Perusahaan Konstruksi Indonesia (ASPEKINDO) Kalimantan Timur.  Di organisasi ini, dia sempat menjadi Ketua Umum DPP ASPEKINDO Kaltim satu periode.

Rendi juga dipercaya hingga tiga periode menjadi ketua organisasi Pengurus Cabang Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia  (Pengcab IPSI)  Kota Balikpapan, sebelum tongkat estafet kepemimpinan IPSI dilanjutkan Muhaimin, MT.

Usai memimpin IPSI Balikpapan, Rendi juga diamanahi menjadi Ketua Pengprov  Indonesia Pikcleball  Federation (IPF) Kaltim. Sebuah cabang olahraga baru dari Amerika Serikat, yang kini disukai banyak kalangan, khususnya kaum milineal.

Wawasannya yang luas dan pandai bergaul di semua kalangan, menempatkan Rendi juga sempat menduduki  Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kota Balikpapan dan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Balikpapan, serta Ketua Pimpinan Daerah Kolektif (PDK) Kosgoro Kalimantan Timur satu periode.

Selain mengabdi sebagai dosen di Fakultas Hukum Universitas Balikpapan (Uniba) sejak tahun 2006 hingga sekarang, Rendi juga dipercaya menjadi Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Dharma Wirawan Kalimantan Timur (YAPENTI DWK) Universitas Balikpapan.

Dirinya juga ditunjuk menjadi Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP PTSI) Kalimantan Timur. Termasuk menjadi Ketua Umum Yayasan Wakaf Al-Mukarromah Bumi Nata – Sekolah Islam Terpadu Al-Munawwaroh Balikpapan, di Km 10 Karang Joang Balikpapan Utara.

Rendi juga menjadi Ketua Pusat Kajian Pembangunan, Hukum dan Kebijakan Publik  “RendI  Institute”. Sebuah organisasi lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang didirikan bersama sejumlah sahabatnya.

Dalam perjalanan karier dan pekerjaanya, kehidupan Rendi juga mengalir berliku.  Rendi sempat memiliki dan bergabung di sejumlah perusahaan. Seperti, Pimpinan Umum / Perusahaan PT Federal  Grafiti  Pers, Dewan Komisaris PT Metafor Industrial Estate, Direktur CV. Rendi  Insan Cita (Likuidasi), Direktur Utama PT. Rendy Insan Cita, Komisaris Utama PT. Marina Jaya Perkasa, Direktur PT. Tadjahan Antang Mineral, Komisaris PT. Rendy Bangun Kalimantan Berjaya dan Owner PT. Garda Bhumi Borneo.

PENGABDIAN TANPA BATAS

Ketika akhirnya terpilih memimpin organisasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Balikpapan menggantikan Zulbachri, di saat yang hampir bersamaan, Rendi juga dipercaya membenahi Universitas Balikpapan (Uniba).

Selain mengabdi sebagai dosen, Rendi juga sebagai Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Dharmawirawan Kalimantan Timur (YAPENTI – DWK ) Universitas Balikpapan (Uniba). Rendi, dibantu semua sivitas akademika Uniba, sukses membangun kawasan kampus yang representatif, dengan bangunan kampus yang makin megah dan bertingkat.

Kondisi yang jauh berbeda saat ia masuk dan kali pertama bergabung di Uniba.  Kini, Kampus Uniba, tidak hanya berdiri megah di kawasan Jalan Pupuk Raya itu, tapi juga membuka cabang Kampus B di Penajam Paser Utara.

Uniba, juga sukses menjalin kerjasama dengan berbagai lembaga dan perguruan tinggi terkemuka di Indonesia dan mancanegara, mulai Bandung, Jakarta, Malang, Surabaya hingga Makassar.

Tidak heran, selain membuka banyak program studi unggulan hingga ke program pascasarjana (magister), Uniba di tangan Rendi,  terbukti memikat banyak anak muda Balikpapan untuk memilih studi di kampus ini.  Ribuan mahasiswa di tiap angkatan, selalu “membanjiri” kampus Uniba tiap ajaran baru.

Sudah tak terhitung para alumninya, yang sukses berkarier di banyak lembaga, instansi pemerintah dan swasta.  Saat diamanati mengelola Uniba bersama teman-teman lainnya, obsesi terbesar Rendi tidak lain ingin menjadikan Uniba sebagai universitas favorit dan unggulan di Kalimantan.

Uniba berkat “tangan dingin” Rendi, berhasil bermetamorfosis, menjadi Kampus Merdeka dan Modern. Obsesinya jelas, menjadikan Uniba sebagai perguruan tinggi berkelas dunia atau “World Class University”.

KADO SPESIAL FK UNIBA

Di tahun 2025 ini, Rendi bersama jajaran sivitas Uniba, juga berhasil mendirikan Fakultas Kedokteran. Tidak hanya membanggakan, tapi  perjuangan melelahkan hingga 10 tahun untuk mendirikan FK Uniba ini, menjadi momentum yang ideal bagi Kaltim utamanya Balikpapan.

Hadirnya FK Uniba seolah menjadi “kado spesial” bagi Rendi. Ia mengatakan, perjuangan panjang di kurun waktu 10 tahun sejak tahun 2015, akhirnya berbuah manis buat seluruh jajaran sivitas Universitas Balikpapan (Uniba).

Betapa tidak, proses untuk mendapatkan izin operasional Fakultas Kedokteran(FK) Uniba ini, semua jajaran sivitas Uniba berjuang “keras”. Tidak hanya dari jajaran rektorat, tapi utamanya Badan Pembina Yayasan Pendidikan Tinggi Dharma Wirawan Kalimantan Timur (YAPENTI DWK) Uniba.

Prosesnya juga tergolong melelahkan. Mulai pembangunan berbagai infrastruktur baru untuk mendukung lahirnya FK Uniba, hingga pendekatan dan lobi ke sejumlah instansi dan lembaga. Termasuk lobi ke sejumlah universitas di Indonesia, hingga ke Komisi X DPR RI dan pihak rumah sakit swasta dan pemerintah.

“Alhamdulillah, perjuangan kami untuk mendapatkan izin operasional pembukaan FK Uniba, akhirnya diterbitkan oleh pemerintah. Tentu, kami sangat bersukur kepada Allah Subhanahu Wata”alla, berkat Ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, tekad dan upaya keras sivitas Uniba, akhirnya diberikan kemudahan, dengan keluarnya izin dari pemerintah,” ujarnya.

Hanya perlu waktu satu bulan setelah izin Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Balikpapan (Uniba) diterbitkanKementerian Pendidikan, Sains dan Teknologi Republik Indonesia, tanggal 30 Juni 2025, dua program studi (prodi) yang dibuka, langsung mendapatkan akreditasi baik.

Akreditasi ini dikeluarkan oleh Pengurus Perkumpulan Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehataan Indonesia (LAM-PTKes), yang ditetapkan di Jakarta tanggal 29 Juli 2025 dan ditandatangani Ketua LAM-PTKes, Prof. dr. Usman Chatib Warsa, Sp.,PhD.

Akreditasi baik untuk Program Studi (Prodi) Sarjana Kedokteran Universitas Balikpapan, dikeluarkan melalui Surat Keputusan Nomor 0141/LAM-PTKes/Akr.PB/Sar/VII/2025. Sementara akreditasi baik untuk Program Studi (Prodi) Pendidikan Profesi Dokter Universitas Balikpapan, dikeluarkan melalui Surat Keputusan Nomor : 0142/LAM-PTKes/Akr.PB/Pro/VII/2025

Pada akhirnya, masih teramat banyak catatan jejak rekam dan histori seorang Rendi Susiswo Ismail. Kisah hidupnya yang penuh dinamika, setidaknya dapat menjadi contoh dan motivasi bagi kaum muda. Bahwa, sukses dan keberhasilan tidak akan dicapai dengan instan atau semudah membalik tangan.

Selamat berhari jadi  Dr. H.Rendi Susiswo Ismail, SE, SH, MH. Semoga tetap sehat dan diberikan kemudahan dalam memajukan Uniba dan sukses di semua bidang yang ditangani, aamiin barakallahu.(*)

Penulis / Editor : Rudi R. Masykur

Admin

Related posts

Next Post